took a break from Instagram
Hello,
I took a rest from Instagram. So, this was my reasons in Vanna's Point of View.
Basically, gw adalah seorang yang sangat visual. Gw suka taking pictures and melihat karya orang. That's why I made an Instagram account. Tapi, semua kesukaan gw backfired on me.
Pada awalnya, gw memiliki applikasi Instagram hanya untuk post pictures yang menurut gw layak untuk diabadikan dan disebarkan dikhalayak umum. Gw menjadikan Instagram sebagai tempat untuk mengekspresikan diri.
Namun semenjak followers gw semakin bertambah, semakin banyak tekanan yang gw rasakan. Mungkin dikarenakan instinct remaja yang ingin disenangi oleh orang lain, gw mulai selektif terhadap apa yang gw post. Mulai memikirkan lokasi foto, baju, dan pose. Lalu, tekanan baru muncul ketika jumlah likes dan comments menjadi tolak ukur apakah foto gw disenangi oleh followers gw atau tidak.
Seiring dengan berjalannya waktu, I made a friends and enemies in Instagram. Mengetahui beberapa orang mendatangi profile Instagram gw untuk melihat apakah gw "good enough" membuat gw semakin selektif terhadap apa yang gw post. I wanted to impress my friends and annoy my enemies. Tujuan yang salah, tetapi that's how it was.
Suatu hari, gw dan teman-teman sedang berada disebuah caffee dan bertemu dengan beberapa group pertemanan. Disana gw sadar akan suatu hal, bahwa gw sudah menjadi budak feeds. Apa itu budak feeds? Budak feeds adalah orang yang rela melakukan apapun demi posting-an yang bagus di-Instagram.
Ketika di caffee tersebut, gw melihat segerombolan wanita berparas cantik dengan baju yang menarik. Mereka berfoto-foto layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Tetapi mirisnya, hanya itu yang mereka lakukan. Setelah berfoto mereka menatap layar handphone masing-masing, sibuk meng-edit foto mereka masing-masing agar Instagramable dan satu per satu mulai membubarkan diri instead of stay and have a little chit chat with their friends.
Disitu gw tersadar bahwa gw dan teman-teman juga berprilaku seperti itu. Sejak saat itu, gw mulai membenahi diri untuk tidak berfokus pada apa yang dilihat dan disukai oleh orang-orang dari Instagram gw. Gw lebih mementingkan untuk berada dimomen tersebut dan live my life to the fullest with my family and friends.
Selain untuk post pictures, gw menggunakan Instagram untuk melihat hasil karya orang dalam menggambar, bernyanyi, dan melukis. Setiap hari, gw menemukan orang-orang baru yang memiliki talenta dengan karya yang sangat luar biasa indah.
Namun, sayangnya hal tersebut membuat gw insecure instead of motivated. I realised that gw tidak mempunyai talenta khusus yang mengagumkan seperti orang-orang yang setiap hari gw lihat di Instagram. Gw merasa bahwa gw hanya seorang yang biasa-biasa saja, tidak spesial, dan tidak ada yang dapat dibanggakan dalam diri gw.
Sebelum mengenal Instagram, gw gemar menggambar, melukis, dan bernyanyi. I considered myself as a good artist. Tetapi setelah melihat postingan orang di Instagram, gw merasa bahwa gw tidak berbakat sama sekali. Gw mulai malu untuk menunjukan hasil karya gw dan akhirnya gw berhenti berkarya.
In my humble opinion, Instagram memiliki dampak positif dan negatifnya tersendiri untuk gw:
Dampak positifnya dapat mengisi waktu luang, mengekspresikan diri sendiri, mengembangkan potensi diri sendiri, mendapatkan inspirasi, mengetahui trend masa kini, bersosialisasi, dan berbisnis.
Sedangkan dampak negatifnya dapat menyebabkan ketergantungan, meningkatkan sifat konsumtif, insecure, dan iri hati.
Actually, hal yang terjadi kepada gw bukan salah aplikasinya. Semua hal tersebut terjadi because of my mindset. I was not mature enough to realise that the world doesn't revolve around me.

Comments
Post a Comment